Tuesday, September 29, 2009

Penilian Preprosedur pada Pasien yang akan Menjalani Tindakan Gastrointestinal ( Part 2 ) Douglas J. Robertson

INFORM CONSENT

Komponen utamanya antara lain :

1. Deskripsi prosedur

2. Indikasi untuk prosedur yang dilakukan

3. Risiko dan komplikasi prosedur

4. Alternatif lain selain prosedur yang akan dilakukan

Penjelasan dilakukan secara keseluruhan, hingga pada akhirnya pasien bertanya sampai mengerti tentang semua yang diinformasikan.

PENILAIAN PASIEN

Pasien harus menjalani laporan singkat mengenai status pengobatan yang sedang dijalaninya dan riwayat alergi. Penilaian kardiopulmonal harus dicek sebelumnya untuk tindakan endoscopy sedatif. Informasi pasien tersebut harus diketahui oleh operator maupun asisten ketika melakukan tindakan.

Tebal

Liver Disease

Pasien sirosis seringkali menderita perdarahan gastrointestinal membutuhkan perawatan antara lain tindakan endoscopy. Sirosis menyulitkan tindakan endoscopy pada beberapa hal. Pertama, disfungsi hepar dapat mengubah metabolisme obat. Pada penelitian prospektif, eliminasi midazolam mengalami pemanjangan (3,9 jam) bila dibandingkan dengan kontrol (1,6 jam). Penggunaan opioid narkotik juga menjadi penyulit bagi pasien ini. Depresi pernapasan juga harus diperhatikan dengan spesifik, terutama pada keadaan acites, hepatic hydrothorax, atau hepatopulmonary syndrome. Dengan pertimbangan tersebut, berikut ini adalah beberapa saran dalam melakukan tindakan :

1. Turunkan dosis golongan sedativ setengah dari dosis awal untuk standar kesehatan pasien sesuai usia dan massa tubuh.

2. Administrasi sedasi dengan sedikit kenaikan.

3. Pergantian antara benzodiazepin ( romazicon ) dengan narcotic (narcan) harus disiapkan. Tugas operator harus dapat memahami penggunaan obat-obat tersebut dan disesuaikan dengan dosis standar.


Kedua, sirosis hepar merupakan predisposisi meningkatnya risiko perdarahan GI melalui beberapa mekanisme. Sintesis yang tidak adekuat dari faktor pembekuan dapat memperpanjang waktu perdarahan (bleeding time). Hal tersebut dikarenakan hipertensi portal dihubungkan dengan trombositopenia. Untuk itu, perdarahan aktif yang terjadi saat tindakan endoscopy perlu ditangani, segera lakukan koreksi keabnormalan pembekuan darah. Untuk mencapai koreksi yang baik digunakan fresh frozen plasma (FFP). Koreksi berhasil bila mencapai international normalized ratio (INR) kurang dari 1,5. Pada pasien dengan trombosit kurang dari 50.000, pertimbangkan diberikannya transfusi. Pengecualian untuk endoscopy pada pasien tanpa perdarahan GI, koreksi agresif untuk keabnormalan pembekuan tidak perlu dilakukan. Jika INR pasien kurang dari 2,5 dan trombosit lebih dari 20.000, maka risiko terjadinya perdarahan minimal.


Referensi :

Drossman DA, Shaheen NJ, Grimm IS.Handbook of Gastroenterologic Procedures.Philadelphia:Lippincott Williams & Wilkins;2005

Saturday, September 26, 2009

Penilian Preprosedur pada Pasien yang akan Menjalani Tindakan Gastrointestinal ( Part 1 ) Douglas J. Robertson

INFORM CONSENT

Komponen utamanya antara lain :

  1. Deskripsi prosedur
  2. Indikasi untuk prosedur yang dilakukan
  3. Risiko dan komplikasi prosedur
  4. Alternatif lain selain prosedur yang akan dilakukan

Penjelasan dilakukan secara keseluruhan, hingga pada akhirnya pasien bertanya sampai mengerti tentang semua yang diinformasikan.




PENILAIAN PASIEN


Pasien harus menjalani laporan singkat mengenai status pengobatan yang sedang dijalaninya dan riwayat alergi. Penilaian kardiopulmonal harus dicek sebelumnya untuk tindakan endoscopy sedatif. Informasi pasien tersebut harus diketahui oleh operator maupun asisten ketika melakukan tindakan.





Diabetes


Pasien dengan diabetes yang sudah lama sering mengalami komplikasi seperti mual, muntah dan perubahan pencernaan yang mungkin mendesak dilakukannya evaluasi tindakan. Karena endoscopy sedasi dilakukan dalam keadaan lambung kosong, kontrol glukosa dan manajemen pengobatan perlu diperhatikan. Berikut ini aturan yang perlu diperhatikan :
  1. Persiapan umum kolonoskopi mengharuskan pasien untuk hanya meminum cairan yang bersih sehari sebelum tindakan. Pasien diabetes harus mengecek glukosa sepanjang hari ( 4 kali per hari ) dan mengatur dosis insulin dengan sesuai.
  2. Seluruh tindakan sedasi mengharuskan pasien dalam keadaan NPO ( nil per os ) pada hari dilakukan tindakan. Rekomendasi umum untuk tindakan ini, yaitu :
  • Untuk tindakan pada waktu pagi hari ( a.m. time ), pemberian hipoglikemik oral dilakukan hingga setelah penyelesaian tes ; untuk tindakan sore hari ( p.m. time ) pengobatan per oral diberikan lebih awal pada pagi hari dengan sedikit air.
  • Pasien yang menggunakan insulin harus diberikan setengah dari dosis rutin per hari NPH atau dosis 70/30-insulin. Mereka tidak mebutuhkan dosis rutin insulin reguler.
  • Saat tiba pada unit endoscopy, dilakukan cek glukosa sebelum tindakan dan mulai berikan infus dextrose 5%.
  • Tes glukosa pasca tindakan juga harus dilakukan, dengan evaluasi oleh tim medis untuk menilai apakah glukosa tinggi atau rendah.


Penyakit Jantung dan Paru

Penyakit jantung paru yang signifikan penting untuk mempertimbangkan dilakukannya tindakan endoscopy. Risiko endoscopy meningkat pada penyakit yang sudah sistemik. Klasifikasi menurut The American Society of Anesthesiologists ( ASA ) dengan menggunakan skala untuk menilai status general fisik pasien.



Klasifikasi ASA :

  • Kelas 1 Pasien sehat tanpa tanpa masalah medis
  • Kelas 2 Penyakit sistemik sedang
  • Kelas 3 Penyakit sistemik berat, tetapi tidak inkapasitas
  • Kelas 4 Penyakit sistemik berat yang butuh pengobatan seumur hidup
  • Kelas 5 Mendekati ajal ; hidup tidak sampai 24 jam

Berikut ini hal-hal yang perlu diperhatikan :
  1. Tetap monitoring vital sign dan saturasi oksigen pada pasien yang mendapat conscious sedation. Pasien dengan kelainan kardiopulmonal , monitoring tersebut wajib dilakukan.
  2. Berikan oksigen dengan nassal cannula. Evalusai tetap dilakukan selama pemberian oksigen dengan kanula pada keadaan obstruksi paru untuk menghindari kemungkinan hiperkapnia.
  3. Pertimbangkan EKG untuk monitoring adanya riwayat aritmia signifikan atau disfungsi kardiak.

Pasien jantung dengan alat implan seperti ICDs ( Internalcardioverter/defibrilators ) harus sangat diperhatikan bila prosedur menggunakan elektrokauter. Hal ini dikarenakan energi elektrik dapat merusak generator peacemaker atau meledakkan ( korsleting ) defibrilator interna. Oleh karena itu , beberapa hal berikut perlu diperhatikan :
  • Selama prosedur dilakukan, terus lakukan monitoring EKG.
  • Posisikan bantal pada bokong atau paha pasien ( menjauh dari peacemaker atau lead ).
  • Menonaktifkan peacemaker/ICDs sebelum prosedur dan cek kembali fungsinya setelah prosedur.
  • Pada pasien dengan alat pacu jantung, jauhkan dari elektrokauter yang dapat menghambat alat pacu jantung tersebut.


Referensi :
Drossman DA, Shaheen NJ, Grimm IS.Handbook of Gastroenterologic Procedures.Philadelphia:Lippincott Williams & Wilkins;2005



to be continue...PART 2....