Kali ini perjalanan kami semakin terasa seru, tidak hanya canda tawa saja yang menghiasi perjalanan ini tapi ada juga air mata. Semua itu dimulai dengan salah seorang dari kami bersepuluh yang ternyata harus dirawat di RS karena DBD dan demam tifoid. Siapa dia???,,,,dia itu saya,,,,
Hari yang sebelumnya tidak pernah terbayang sedikit pun, hari dimana saya harus mencicipi jadi seorang pasien pada sebuah paviliun “G” di kota itu. Hari pertama tiba, diri ini masih seperti orang yang “sok kuat” sampai akhirnya sudah tidak tahan dan ingin pingsan. RL iv pun harus terpasang di tangan ini, sampai tiba di UGD apa yang terjadi???,,,,tentu saja saya harus dirawat,,,dan akhirnya dirawat lah di kelas dua RS itu,,,malam itu teman-teman saya yang bergantian jaga,,,benar-benar malam itu adalah malam yang sangat menyedihkan bagi saya,,,jauh dari mama dan papa,,,tapi Alhamdulillah teman-teman saya sudah mau meluangkan waktu mereka untuk bergantian menjaga saya yang sudah tidak berdaya ini. Malam itu tidak akan terlupakan,,,bahkan saat ingin ke kamar mandi saja kaki ini sampai sulit sekali melangkah karena kram di bagian betis,,,tidur pun rasanya sulit sekali, terasa di telinga ini berisik sekali dan tidak tahu ada apa sebenarnya. Sampai akhirnya keesokan harinya mama dan adik saya datang dari jakarta. Yang paling terharu ketika harus melihat mama menangis. Pada hari kedua itu saya langsung dipindahkan ke paviliun “G” dengan harapan suasanan disana dapat mendukung kesembuhan karena situasi lebih kondusif. Alhamdulillah selama empat hari dirawat keadaan saya pun semakin membaik. Awalnya saya sangat tidak yakin akan terus melanjutkan perjalanan bersama sembilan orang teman saya itu, namun hati ini semakin yakin ketika seorang dokter spesialis penyakit dalam yang merawat saya itu visit dan memberikan semangat dengan kalimatnya yang sangat santun. Saya tidak akan melupakan dokter itu, dia sangat baik dan kalimatnya pun selalu memotivasi saya sehingga pada hari kamis trombosit yang tadinya sempat turun hingga 13.000 menjadi naik. Hari kamis malam pun saya dijemput teman-teman menuju Magelang, dan hari- hari kami pun dimulai.
Sungguh perjalanan kami memang diwarnai dengan kegembiraan. Tinggal satu atap membuat kami saling mengenal watak satu sama lain. Walaupun sempat ada momen yang kurang mengenakan, tetapi itu semua telah selesai dan kembali seperti sedia kala. The Grandel’s,,,,yaa,,,itu lah nama kami. Nama itu diciptakan oleh seorang teman saya yang kepanjangannya diambil dari nama desa tempat kami menetap selama lima minggu. Selama disana banyak pelajaran yang dapat kami ambil, tidak hanya bagaimana cara kerja masing-masing program puskesmas tetapi juga tentang sebuah makna kehidupan. Disana baru terasa pentingnya bersosialisasi dan mengenal orang baru. Orang-orang desa yang sangat baik, mereka bahkan mungkin belum terjamah oleh pikiran-pikiran negatif. Niat orang-orang desa yang selalu ingin membantu sesama tanpa pandang bulu. Dan itu sangat menyentuh saya. Pelajaran lain adalah mengenai makna Kedokteran Keluarga yang cukup menarik perhatian saya dan membuat saya merasa bahwa adanya seorang dokter keluarga itu ternyata penting. Tidak mudah juga ternyata untuk menjadi seorang dokter keluarga, karena hal utama dalam benak seorang dokter keluarga adalah tentang sebuah niat dan keikhlasan. Bagi saya seorang dokter keluarga bukan lah sekedar dokter yang setelah memberi resep obat lalu selesai, namun harus menjalankan tugas secara paripurna dan menyeluruh. Menjaga agar yang sehat tetap sehat dan mengobati yang sakit sesuai keilmuan yang dimiliki serta melakukan rujukan sesuai kebutuhan. Intinya seorang dokter keluarga harus lah seorang dokter yang cerdas dan pandai berkomunikasi. Cerdas untuk mendiagnosis dan pandai berkomunikasi aktif untuk mendalami penyakit serta faktor risiko yang dimiliki pasien, sehingga dapat dilakukan suatu edukasi maupun penatalaksanaan yang berkesinambungan bagi pasien serta keluarganya. Itu lah yang membuat saya tertarik untuk menjadi seorang dokter keluarga.
Kisah perjalanan kali ini sangat seru dan pastinya penuh keceriaan. Saya senang bisa bersama-sama sembilan orang sahabat yang sudah saya anggap seperti keluarga dan saya sangat berterimakasih kepada Allah SWT karena telah mengirimkan mereka sebagai teman dalam satu tim. Tim yang solid dan penuh kekeluargaan.
I’ll always remember those moment when we spent our time together with laugh, happiness or even tears. Love you all my Grandel’s and thank you for those togetherness.
Wednesday, October 19, 2011
Wednesday, October 12, 2011
Cerita Hati Tentang Ikhlas dan Lapang Dada
Untuk kesekian kalinya mengalami dilema yang Alhamdulillah berujung ikhlas dan lapang dada.
Sempat gundah sampai sakit melanda ketika hati bimbang menanti keputusan itu.
Seminggu yang terasa amat suram menghalau angan dan cita-cita serta rencana masa depan yang sudah tertanam erat dalam hati, semua itu karena saat keikhlasan belum datang sepenuhnya menyelubungi nurani yang kian resah sehingga tak paham harus dibawa kemana asa ini.
Tiba waktunya hari dimana arti kemunculan sebuah nama terpugut di selebaran pengumuman jadwal stase,,hmmm,,,yaa,hari itu hati ini sudah mengikhlaskan apapun keputusannya.
Dan ternyata memang Aku harus tetap melanjutkannya di kota ini.
Malam sebelum hari itu Aku berpasrah pada-Nya memohon dari lubuk terdalam akan yang terbaik bagi diri ini, memohon tempat terbaik melanjutkan stase yang masih 6 lagi harus Aku jalani.
Awalnya ego ini sangat tak terkendali menginginkan agar kembali ke jakarta berharap lebih cepat menyelesaikan stase-stase, ditambah lagi rasa iri terhadap kawan-kawan yang sudah melaju lebih cepat dari pada Aku di sini.
Semua itu makin Aku pasrahkan ketika tahu bahwa ada yang lebih tepat untuk didahului mengambil tempat karena memang mereka seharusnya sudah selesai, itu lah yang Aku kecewakan dari sistem yang mengolah perjalanan Kami ini karena sistem yang kurang peka dalam mempertimbangkan keadaan di masa lalu dan masa kini,,,yaa,itu hanya opini Ku.
Kalaupun harus ditunjuk siapa yang salah mungkin sang empunya sistem lah yang perlu mempertanggungjawabkan semua kericuhan ini, tetapi apa mau dikata mulut ini tak memiliki kuasa dan yang bisa dilakukan hanya berdoa memohon yang terbaik karena Sang Kuasa lah yang Maha Tahu tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan manusia.
Dan saat ini pun Insyaallah Aku sudah ikhlas untuk apa yang akan terjadi dalam kehidupan ini kelak, hanya doa dan ikhtiar yang akan Aku lakukan.
Kalau pun ada yang terberat untuk Aku relakan adalah waktu Ku yang semakin jarang Aku habiskan bersama keluarga.
Untuk kedua orang tua Kami yang saat ini sudah semakin sering melalui hari-hari hanya berdua karena anak-anak mereka mulai sibuk mengejar cita-citanya, namun Aku harap semua yang Kami lakukan mendapat ridho keduanya dan dapat membahagiakan keduanya kelak.
Aku dan kedua saudara kandung Ku dilahirkan dari orang tua yang berjiwa besar dalam membesarkan anak-anaknya, dari kecil Kami dididik untuk menjadi manusia yang mengejar cita-cita menjadi orang sukses dan kini Alhamdulillah Kami bertiga memiliki profesi yang sama-sama bergerak dalam bidang yang notabennya adalah sebuah pengabdian bagi bangsa dan negara. Semoga Allah SWT selalu memberi kemudahan dalam menjalankan profesi Kami dan selalu meluruskan niat Insyaallah tulus karena-Nya.Amin...
Sempat gundah sampai sakit melanda ketika hati bimbang menanti keputusan itu.
Seminggu yang terasa amat suram menghalau angan dan cita-cita serta rencana masa depan yang sudah tertanam erat dalam hati, semua itu karena saat keikhlasan belum datang sepenuhnya menyelubungi nurani yang kian resah sehingga tak paham harus dibawa kemana asa ini.
Tiba waktunya hari dimana arti kemunculan sebuah nama terpugut di selebaran pengumuman jadwal stase,,hmmm,,,yaa,hari itu hati ini sudah mengikhlaskan apapun keputusannya.
Dan ternyata memang Aku harus tetap melanjutkannya di kota ini.
Malam sebelum hari itu Aku berpasrah pada-Nya memohon dari lubuk terdalam akan yang terbaik bagi diri ini, memohon tempat terbaik melanjutkan stase yang masih 6 lagi harus Aku jalani.
Awalnya ego ini sangat tak terkendali menginginkan agar kembali ke jakarta berharap lebih cepat menyelesaikan stase-stase, ditambah lagi rasa iri terhadap kawan-kawan yang sudah melaju lebih cepat dari pada Aku di sini.
Semua itu makin Aku pasrahkan ketika tahu bahwa ada yang lebih tepat untuk didahului mengambil tempat karena memang mereka seharusnya sudah selesai, itu lah yang Aku kecewakan dari sistem yang mengolah perjalanan Kami ini karena sistem yang kurang peka dalam mempertimbangkan keadaan di masa lalu dan masa kini,,,yaa,itu hanya opini Ku.
Kalaupun harus ditunjuk siapa yang salah mungkin sang empunya sistem lah yang perlu mempertanggungjawabkan semua kericuhan ini, tetapi apa mau dikata mulut ini tak memiliki kuasa dan yang bisa dilakukan hanya berdoa memohon yang terbaik karena Sang Kuasa lah yang Maha Tahu tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan manusia.
Dan saat ini pun Insyaallah Aku sudah ikhlas untuk apa yang akan terjadi dalam kehidupan ini kelak, hanya doa dan ikhtiar yang akan Aku lakukan.
Kalau pun ada yang terberat untuk Aku relakan adalah waktu Ku yang semakin jarang Aku habiskan bersama keluarga.
Untuk kedua orang tua Kami yang saat ini sudah semakin sering melalui hari-hari hanya berdua karena anak-anak mereka mulai sibuk mengejar cita-citanya, namun Aku harap semua yang Kami lakukan mendapat ridho keduanya dan dapat membahagiakan keduanya kelak.
Aku dan kedua saudara kandung Ku dilahirkan dari orang tua yang berjiwa besar dalam membesarkan anak-anaknya, dari kecil Kami dididik untuk menjadi manusia yang mengejar cita-cita menjadi orang sukses dan kini Alhamdulillah Kami bertiga memiliki profesi yang sama-sama bergerak dalam bidang yang notabennya adalah sebuah pengabdian bagi bangsa dan negara. Semoga Allah SWT selalu memberi kemudahan dalam menjalankan profesi Kami dan selalu meluruskan niat Insyaallah tulus karena-Nya.Amin...
Subscribe to:
Posts (Atom)