Sunday, March 23, 2014

Part 2. "Haruskah berangkat internship ?" -12/08/2013-

Yudisium, sumpah dokter dan ujian kompetensi dokter telah selesai, kini saatnya menuju petualangan selanjutnya yang disebut Program Internship. Amat sangat malas memulainya tetapi ini harus dimulai. Terbersit di lubuk hati untuk memilih Kalimantan Barat sebagai provinsi pilihan dan kami pun akhirnya ditempatkan di salah satu kabupaten yang tepatnya adalah kabupaten baru hasil pemekaran. Tapi tunggu dulu, sebelum berangkat internship banyak hal yang harus dipersiapkan selain packing barang. Pastinya hal penting itu adalah menghabiskan waktu di kota asal sebelum menjamah daerah baru yang notabennya terkesan pelosok.  Lalu memulai mengatur jadwal kumpul bersama para sahabat dan pastinya bersama keluarga. Paling tidak saat-saat bersama itu akan menjadi penyemangat untuk segera kembali lepas tugas di daerah. Hal unik lain yang mungkin secara tidak sengaja ternyata mendadak jadi penting seperti jalan-jalan ke mall, nonton film, atau sekedar ngobrol dan bersantai di restoran cepat saji hingga larut malam sampai tak terasa waktu tinggal hitungan jam tetapi koper sama sekali belum terisi barang yang akan dibawa. Pastinya saat-saat paling malas adalah mengisi koper dan membuat list barang penting apa yang harus diprioritaskan untuk dibawa supaya tidak overload di bagasi pesawat. Hari keberangkatan tiba, bangun pagi-pagi karena jadwal maskapai milik negara ini yang lumayan pagi sekali sehingga tidak sempat menghabiskan waktu di kamar mandi lama-lama seperti biasa. Begitu tiba di bandara yang mengagetkan saat check in adalah barang bawaan yang overload hingga 40 kg alias dua kali lipat kapasitas per orang. Mau dibilang apa lagi selain harus mengeluarkan kocek dari jatah uang saku yang lumayan bisa untuk makan seminggu dan habislah jatah uang saku saya, lalu dengan berat hati harus menghubungi orang tua "lagi-lagi" memohon belas kasih. Lalu kami pun tiba di bandara yang baru pertama kali saya menginjakkan kaki, yaitu Bandara Supadio. Sesuai dari penglihatan saat di udara terbentang sungai kapuas dan daerah ini memang dataran yang tampak seperti di atlas memang dominan warna hijau. Begitu sampai perjalanan internship pun dimulai dengan masa orientasi selama satu minggu sambil mencari tempat tinggal layak. Dan syukur sekali kami mendapat rumah yang cukup nyaman, walaupun harus menyesuaikan diri dengan keadaan air disini yang warnanya kadang sama dengan air sungai. Lebih lagi ini menjadi sebuah perjalanan yang hingga detik tiba disana masih menjadi pertanyaan mengapa harus internship?. Dan saya pun terus mencari jawaban pertanyaan tersebut.

Part 1. "Profesi ini pilihan hidup saya" -25/07/2013-

Tepat di awal tahun saya akhirnya dinyatakan lulus setelah sekitar enam tahun lebih mengenyam pendidikan untuk mendapatkan gelar seorang Dokter. Hari-hari mulai dari kuliah, tutorial, skill lab, lab activity, field visit, hingga masa-masa kepaniteraan klinik telah berlalu. Semua suka duka telah menjadi cerita yang tak akan pernah tamat diceritakan bahkan mungkin sampai anak cucu nanti. Banyak cerita duka tapi cerita suka pun tak kalah menghiasi perjuangan saya untuk mendapat gelar ini. Seringkali hati ini merasa lelah dan ingin rasanya untuk pulang sejenak dan bersenang-senang bersama keluarga. Beberapa hari pun sering saya habiskan waktu di rumah dan segera kembali lagi dengan hati yang setengah ikhlas apalagi kalau melihat lambaian tangan kedua orang tua dan adik dari balik jendela kereta api yang akan segera mengantarkan saya menuju Kota Satria. Totalnya kurang lebih dua tahun saya menjalani kepaniteraan klinik diselingi stagnansi, namun satu tahun empat bulan saya lalui proses menuntut ilmu di kota itu bersama teman-teman lama maupun baru, dan mereka sudah membuat saya setidaknya merasa betah disana. Kadang kami bermain selepas jaga atau sekedar mengobrol di kantin rumah sakit, cemilan gorengan kemangi kesukaan saya pun menjadi sasaran atau kadang di cafe kecil dekat bangsal kenanga kami menyantap mie nyemek sambil melemaskan otot-otot kaki setelah lelah berdiri di ruang OK atau pun visit di bangsal yang pasiennya kadang sampai lorong-lorong. Mulai dari diskusi kasus hingga cerita konyol antara CoAss dengan Konsulen menjadi bumbu yang seru dalam perbincangan kami. Tak jarang di sela-sela menanti Konsulen datang visit saya dan teman-teman memberanikan diri sejenak melarikan diri ke kantin untuk mengisi lambung yang sudah kosong semalaman, dan dengan jurus langkah seribu pun kami berjalan melintasi lorong lain menuju kantin agar tidak berpapasan dengan Konsulen. Pilihan lainnya menunggu sang ibu penjual donat dan gorengan yang senantiasa sedia setiap saat mengisi kekosongan perut kami. Sungguh konyol memang, tetapi begitulah seharusnya kalau tidak mau kelaparan asalkan jangan sampai tugas follow up pasien terbengkalai. Begitu visit mulai maka rasanya benar-benar senang, tetapi jika visit bersama konsulen yang hobi sekali bertanya itu akan menjadi visit yang cukup menegangkan apalagi ada di salah satu bagian yang selalu dilanjutkan dengan diskusi kasus di ruangan setelah visit. Cukup mengasyikan dan penuh canda tawa bahkan air mata dan memang begitulah CoAss. Dan ternyata hari-hari itu sangat saya rindukan. Saat-saat mengisi kebosanan dengan jalan-jalan bersama entah itu makan di sekitar GOR seperti cemilan takoyaki atau super sambal, minum jus di toko buah segar sambil duduk-duduk dan mengobrol, main ke swalayan yang hampir mendekati mall (mungkin sekarang sudah jadi mall), duduk-duduk di alun-alun lalu makan bakso terenak di kota itu, atau sekedar makan sate di depan rumah sakit yang terkenal di antara para CoAss yang ibu penjual satenya jarang senyum tapi sebenarnya baik, bahkan sampai karokean hingga tengah malam lalu pulangnya kelaparan dan akhirnya mampir dulu di angkringan, atau saat jaga IGD ketika bulan puasa mencari makan gudeg di pinggir jalan dekat pasar sampai harus satu meja bersama pria yang menyerupai wanita, dan masih banyak lagi. Memang benar CoAss adalah masa-masa penuh derita namun penuh cerita dan tidak akan saya lupakan segala daya dan upaya yang telah saya lalui di masa itu. Alhamdulillah itu semua telah menjadi kenangan dalam hidup ini dan tak lupa juga untuk merangkum teori dan pengalaman di kepaniteraan klinik dalam buku catatan CoAss yang sampai detik ini menjadi pegangan saat saya praktek. Kesan CoAss yaitu, jangan lelah untuk selalu membuka buku untuk mencocokan antara teori dengan praktek walaupun rasa mengantuk atau bosan kadang mendominasi dan jangan sampai hanya menjadi "robot bersenjata pulpen" yang hanya mencatat tanpa meresapi dengan otak dan nurani. Akhirnya Yudisium dan Sumpah telah terlaksana, kemudian perjalanan selanjutnya adalah INTERNSHIP. Dan pertanyaannya adalah, haruskah saya menjalani INTERNSHIP ?.

Saturday, June 9, 2012

Tiba-tiba Semua Terasa Tanpa Tujuan...

Ketika memulai menulis judul kali ini pun terasa tanpa tujuan. Semua yang telah dimulai dengan segenap niat dan cita-cita tiba-tiba seperti hilang entah kemana. Kenapa ini terjadi diri ini pun tak tahu jawabannya. Namun mungkin ada sesuatu yang mengganggu pikiran ini sehingga hari-hari seperti terasa gelap. Tujuan hidup ini hanya untuk menjalankan segenap tenaga dan pikiran dengan ikhlas menjalankan segala tugas dan kewajiban, walaupun itu semua kadang telah merenggut waktu untuk dapat bersama orang-orang tercinta, terutama keluarga. Hari demi hari yang telah Saya lalui selama 1 tahun menuju 3 bulan di kota ini memberikan banyak ilmu dan pengalaman. Disini Saya merasa banyak hal yang sulit dimengerti, tetapi seiring waktu itu semua dapat dilalui dan selesai begitu saja tentunya dengan segala kelelahan yang bersarang dalam fisik ini. Satu hal yang kadang menjadi pertanyaan dalam diri ini adalah " Apakah Saya siap menjadi dewasa dan menjalani profesi dengan segenap kemampuan dan tanggungjawab kedepannya? "... pertanyaan yang sulit dipaparkan dalam keadaan seperti saat ini. Saat dimana rasa jenuh menyelimuti otak ini dan saat badan ini mulai merasa seperti kekurangan energi. Namun kepercayaan orang tua membuat Saya tetap bertahan dan berjuang menyelesaikan masa-masa pendidikan ini, untuk selanjutnya menjalani tugas yang sesungguhnya di tempat yang pastinya tidak tahu akan dimana. Berada jauh dari orang tua dan keluarga kadang membuat diri ini seperti sendiri walaupun banyak sahabat dan teman di sekitar Saya. Yaaa,,,karena bagi Saya hanya orang tua lah tempat terindah dan ternyaman di dunia, tempat dimana Saya bisa bebas berkeluh kesah tanpa khawatir apapun. Karena mereka adalah milik Allah SWT yang paling berharga bagi Saya. Beberapa hari terakhir ini hati terasa tidak tenang dan merasa gundah. Gundah karena merasa sepi disini, di kamar yang jauh dari rumah, di tempat yang tidak bisa dengan sekejap tiba di rumah. Kadang batin ini merasa membutuhkan sosok lain yang bisa mengisi rasa sepi ini, bukan teman atau sahabat tetapi seorang pendamping hidup. Tetapi mungkin jawaban dari Yang Maha Kuasa belum ada untuk saat ini, dan Saya akan tetap menunggu. Saya tidak tahu kapan waktu itu akan datang, tetapi pasti akan tiba saatnya. Saat itu adalah saat Saya, orang tua dan keluarga telah siap menerimanya sebagai pendamping diri ini. Sekarang mungkin bukan waktu yang tepat memulai sesuatu yang serius, tetapi bukan berarti Saya menutup diri. Saya hanya tidak ingin terkesan terburu-buru, walau sebenarnya hati ini kadang sudah tidak sabar untuk berjumpa dengannya. Sesosok "dia" yang masih menjadi tanda tanya besar bagi Saya dan bahkan mungkin bagi orang-orang sekeliling Saya. Kalau membicarakan soal ini agak miris dan sedih, karena kadang Saya merasa minder ketika teman-teman dengan bangganya bercerita tentang pasangan mereka. Namun beginilah Saya dengan segala kekurangan dan mungkin prinsip yang masih dapat Saya pertahankan sampai detik ini. Insyaallah... Sesulit apappun hari esok pasti akan terlewati juga, walau tidak ada satu pun manusia yang tahu bagaimana hari esok itu akan terjadi dan Allah SWT pasti tidak akan memberi cobaan melebihi batas kemampuan Saya. Manusia dengan segala kekurangan adalah SAYA...Dan Insyaallah diri ini tidak akan pernah lelah berusaha menjadi yang terbaik dan berguna bagi manusia lainnya. Amin ... writted on June 9, 2012 Flamboyan 211.

Saturday, December 24, 2011

Sekedar Paragraf Penutup Akhir Tahun 2011

12 bulan sudah aku melewatkan hari-hari dengan setumpuk kesibukan yang tak lain dan tak bukan apalagi kalau bukan soal mengejar cita-cita.
Beberapa peristiwa terlewati tanpa kehadiran ku,bahkan di tahun lalu kejadian yang membuatkan sangat syok dan sedih adalah ketika kakak ku kecelakaan terjun tetapi aku tak di sana dan hanya memantau dari jauh melalui telepon, sms atau kiriman foto-foto tentang keadaannya. Belum lagi ketika keponakan ku lahir 2 bulan lalu di saat aku tidak sedang libur. Dan hal-hal lain seperti tidak ikut liburan bersama keluarga besar, pernikahan sepupu sampai pernikahan beberapa teman lama yang tidak dapat ku hadiri. Namun, aku tetap bahagia mendengar segala kebahagiaan bagi mereka walau hanya doa yang bisa ku panjatkan dari jauh. Dan aku selalu berharap semua dalam keadaan yang baik-baik saja. Tetapi aku paling khawatir bila sudah mendengar kabar mama atau papa sakit karena kadang pikiran ini jadi tidak menentu dan melantur, namun sekali lagi hanya kepada Alloh SWT aku berdoa dan memohon perlindungan untuk keduanya.

Sedikit kegalauan dalam hati mungkin sering terbersit ketika mendengar teman-teman ku sudah banyak yang sukses dan menikah. Mungkin terkesan iri tetapi hati ini hanya sebuah hati manusia yang jauh dari kesempurnaan. Ingin rasanya aku segera di posisi seperti mereka yang sudah terbilang sukses dalam karir maupun menyempurnakan kodratnya sebagai wanita. Aku pun hanya bisa berdoa dan pasrah menunggu jawaban-Nya soal ini semua. Insyaallah aku akan senantiasa memperbaiki diri lahir dan batin untuk selanjutnya dapat menyempurnakan ibadah ku kepada-Nya. Segala hikmah, nikmat dan karunia Alloh SWT akan selalu dilimpahkan bila manusia selalu meningkatkan keimanan dan ketaqwaannya. Karena Dia Yang Maha Tahu apa yang sesungguhnya aku butuhkan dan kapan saatnya tiba maka itu lah saat terbaik bagi ku.


Kisah lain di akhir tahun ini adalah tentang seorang sejawat ku yang baru saja kembali ke haribaan-Nya. Seorang teman,sahabat,saudara bahkan seorang anak yang dikenal baik hati, sopan, cerdas, gigih serta memiliki semangat belajar tinggi. Baru beberapa bulan aku mengenalnya tetapi sangat berkesan. Satu hal yang mungkin jarang dimiliki banyak orang, yaitu sifat sabar yang teramat dalam darinya memberikan sebuah pelajaran bagi ku. Semoga aku pun bisa memiliki hati yang sabar seluas samudera agar dapat menjalani segala cobaan dengan hati yang lapang. Sifat lain dari dirinya yang patut diacungi jempol adalah selalu berpikir positif kepada semua orang dan itu sangat membuat ku terharu karena tidak pernah sedikit pun ada cerita negatif tentang dirinya soal pergaulan maupun kesehariannya. Semoga Alloh SWT memberikan tempat terbaik bagi sejawat ku itu.Amin.


Kalau ditanya mengenai resolusi di tahun depan aku hanya bisa berpikir satu hal, yaitu ingin selalu gigih menjalani hari-hari ku menyelesaikan tugas ku meraih cita-cita. Aku ingin segera menjalani hari-hari baru dengan suasana baru dan lingkungan baru serta menjadikan diri ini lebih bermanfaat bagi manusia lain. Dan kalau bicara tahun baru tentunya beberapa hari setelah tahun baru akan tiba hari dimana aku akan bertambah usia. Usia ku akan semakin dewasa, tetapi kadang sikap dan pikiran ini masih kekanak-kanakan. Aku tidak butuh kado berupa materi, karena aku cuma ingin Alloh SWT mengabulkan doa ku dan berharap Dia akan mendengar lalu melimpahkan harapan ku itu.
Doa dan harapan ku di usia ku yang ke-24 :

1. Ya Rabb, aku ingin Engkau selalu memberikan kesehatan bagi kedua orang tua ku agar mereka dapat ku bahagiakan seperti mereka membahagiakan ku hingga kini, walaupun mungkin segala jerih payah mereka tak ternilai harganya tapi aku mohon berikan lah waktu dimana aku dapat membahagiakan mereka, melihat ku sukses dalam karir, mengantarkan ku menikah sampai memberi mereka cucu yang sholeh/sholeha dan lucu-lucu...Amin.

2. Ya Rabb, aku ingin selalu diberikan kelancaran dalam menggapai cita-cita dan izinkanlah aku untuk selalu menuntut ilmu setinggi-tingginya agar senantiasa bermanfaat bagi manusia lainnya sebagaimana profesi ku saat ini...Amin.

3. Ya Rabb, doa ku yang ini sebenarnya aku malu mengungkapkan tapi aku ingin sekali Engkau mendengarnya dan mengabulkannya di usia ku ini, tunjukkanlah jodoh ku Ya Mujib, pertemukanlah kami dalam tali silaturahmi di jalan-Mu, permudahkanlah jalannya menemukan hati ku sehingga kami dapat berkumpul dalam suasana hati yang tulus karena-Mu Ya Jami', berikanlah kesejukan di hati kami ketika bertemu Ya Waduud, dan eratkan hati kami selalu dalam iman kepada-Mu Ya Karim...Amin Ya Rabbal Alamin...

Ya Alloh Ya Rahman Ya Rohim,,,hanya kasih sayang-Mu lah yang mampu membuat diri ini merasa aman dan tenang, dan terima kasih Engkau selalu mengirimkan orang-orang yang menyayangi ku di mana pun aku berada. Orang tua, saudara, sahabat dan guru ku adalah manusia yang Engkau kirim untuk ku. Terimakasih Ya Alloh Ya Wahab...

Lahawlaa wa laa kuwwata illaabillahil aliyil adzim
Sholallahu 'ala syaidina Muhammadin wa 'ala alihi wa sahbihi wassalam wal hamdulillahirrobbil 'alamin....

"All my life I'll give my best for everything I do and especially for my parent whom I'll dedicate my successful by make them proud and happy,,,I love mama and papa"

Wednesday, October 19, 2011

Me and my lovely Grandel’s from Grabag to Semarang on 20 September to 13 november 2010

Kali ini perjalanan kami semakin terasa seru, tidak hanya canda tawa saja yang menghiasi perjalanan ini tapi ada juga air mata. Semua itu dimulai dengan salah seorang dari kami bersepuluh yang ternyata harus dirawat di RS karena DBD dan demam tifoid. Siapa dia???,,,,dia itu saya,,,,
Hari yang sebelumnya tidak pernah terbayang sedikit pun, hari dimana saya harus mencicipi jadi seorang pasien pada sebuah paviliun “G” di kota itu. Hari pertama tiba, diri ini masih seperti orang yang “sok kuat” sampai akhirnya sudah tidak tahan dan ingin pingsan. RL iv pun harus terpasang di tangan ini, sampai tiba di UGD apa yang terjadi???,,,,tentu saja saya harus dirawat,,,dan akhirnya dirawat lah di kelas dua RS itu,,,malam itu teman-teman saya yang bergantian jaga,,,benar-benar malam itu adalah malam yang sangat menyedihkan bagi saya,,,jauh dari mama dan papa,,,tapi Alhamdulillah teman-teman saya sudah mau meluangkan waktu mereka untuk bergantian menjaga saya yang sudah tidak berdaya ini. Malam itu tidak akan terlupakan,,,bahkan saat ingin ke kamar mandi saja kaki ini sampai sulit sekali melangkah karena kram di bagian betis,,,tidur pun rasanya sulit sekali, terasa di telinga ini berisik sekali dan tidak tahu ada apa sebenarnya. Sampai akhirnya keesokan harinya mama dan adik saya datang dari jakarta. Yang paling terharu ketika harus melihat mama menangis. Pada hari kedua itu saya langsung dipindahkan ke paviliun “G” dengan harapan suasanan disana dapat mendukung kesembuhan karena situasi lebih kondusif. Alhamdulillah selama empat hari dirawat keadaan saya pun semakin membaik. Awalnya saya sangat tidak yakin akan terus melanjutkan perjalanan bersama sembilan orang teman saya itu, namun hati ini semakin yakin ketika seorang dokter spesialis penyakit dalam yang merawat saya itu visit dan memberikan semangat dengan kalimatnya yang sangat santun. Saya tidak akan melupakan dokter itu, dia sangat baik dan kalimatnya pun selalu memotivasi saya sehingga pada hari kamis trombosit yang tadinya sempat turun hingga 13.000 menjadi naik. Hari kamis malam pun saya dijemput teman-teman menuju Magelang, dan hari- hari kami pun dimulai.
Sungguh perjalanan kami memang diwarnai dengan kegembiraan. Tinggal satu atap membuat kami saling mengenal watak satu sama lain. Walaupun sempat ada momen yang kurang mengenakan, tetapi itu semua telah selesai dan kembali seperti sedia kala. The Grandel’s,,,,yaa,,,itu lah nama kami. Nama itu diciptakan oleh seorang teman saya yang kepanjangannya diambil dari nama desa tempat kami menetap selama lima minggu. Selama disana banyak pelajaran yang dapat kami ambil, tidak hanya bagaimana cara kerja masing-masing program puskesmas tetapi juga tentang sebuah makna kehidupan. Disana baru terasa pentingnya bersosialisasi dan mengenal orang baru. Orang-orang desa yang sangat baik, mereka bahkan mungkin belum terjamah oleh pikiran-pikiran negatif. Niat orang-orang desa yang selalu ingin membantu sesama tanpa pandang bulu. Dan itu sangat menyentuh saya. Pelajaran lain adalah mengenai makna Kedokteran Keluarga yang cukup menarik perhatian saya dan membuat saya merasa bahwa adanya seorang dokter keluarga itu ternyata penting. Tidak mudah juga ternyata untuk menjadi seorang dokter keluarga, karena hal utama dalam benak seorang dokter keluarga adalah tentang sebuah niat dan keikhlasan. Bagi saya seorang dokter keluarga bukan lah sekedar dokter yang setelah memberi resep obat lalu selesai, namun harus menjalankan tugas secara paripurna dan menyeluruh. Menjaga agar yang sehat tetap sehat dan mengobati yang sakit sesuai keilmuan yang dimiliki serta melakukan rujukan sesuai kebutuhan. Intinya seorang dokter keluarga harus lah seorang dokter yang cerdas dan pandai berkomunikasi. Cerdas untuk mendiagnosis dan pandai berkomunikasi aktif untuk mendalami penyakit serta faktor risiko yang dimiliki pasien, sehingga dapat dilakukan suatu edukasi maupun penatalaksanaan yang berkesinambungan bagi pasien serta keluarganya. Itu lah yang membuat saya tertarik untuk menjadi seorang dokter keluarga.
Kisah perjalanan kali ini sangat seru dan pastinya penuh keceriaan. Saya senang bisa bersama-sama sembilan orang sahabat yang sudah saya anggap seperti keluarga dan saya sangat berterimakasih kepada Allah SWT karena telah mengirimkan mereka sebagai teman dalam satu tim. Tim yang solid dan penuh kekeluargaan.
I’ll always remember those moment when we spent our time together with laugh, happiness or even tears. Love you all my Grandel’s and thank you for those togetherness.

Wednesday, October 12, 2011

Cerita Hati Tentang Ikhlas dan Lapang Dada

Untuk kesekian kalinya mengalami dilema yang Alhamdulillah berujung ikhlas dan lapang dada.
Sempat gundah sampai sakit melanda ketika hati bimbang menanti keputusan itu.
Seminggu yang terasa amat suram menghalau angan dan cita-cita serta rencana masa depan yang sudah tertanam erat dalam hati, semua itu karena saat keikhlasan belum datang sepenuhnya menyelubungi nurani yang kian resah sehingga tak paham harus dibawa kemana asa ini.
Tiba waktunya hari dimana arti kemunculan sebuah nama terpugut di selebaran pengumuman jadwal stase,,hmmm,,,yaa,hari itu hati ini sudah mengikhlaskan apapun keputusannya.
Dan ternyata memang Aku harus tetap melanjutkannya di kota ini.
Malam sebelum hari itu Aku berpasrah pada-Nya memohon dari lubuk terdalam akan yang terbaik bagi diri ini, memohon tempat terbaik melanjutkan stase yang masih 6 lagi harus Aku jalani.
Awalnya ego ini sangat tak terkendali menginginkan agar kembali ke jakarta berharap lebih cepat menyelesaikan stase-stase, ditambah lagi rasa iri terhadap kawan-kawan yang sudah melaju lebih cepat dari pada Aku di sini.
Semua itu makin Aku pasrahkan ketika tahu bahwa ada yang lebih tepat untuk didahului mengambil tempat karena memang mereka seharusnya sudah selesai, itu lah yang Aku kecewakan dari sistem yang mengolah perjalanan Kami ini karena sistem yang kurang peka dalam mempertimbangkan keadaan di masa lalu dan masa kini,,,yaa,itu hanya opini Ku.
Kalaupun harus ditunjuk siapa yang salah mungkin sang empunya sistem lah yang perlu mempertanggungjawabkan semua kericuhan ini, tetapi apa mau dikata mulut ini tak memiliki kuasa dan yang bisa dilakukan hanya berdoa memohon yang terbaik karena Sang Kuasa lah yang Maha Tahu tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan manusia.
Dan saat ini pun Insyaallah Aku sudah ikhlas untuk apa yang akan terjadi dalam kehidupan ini kelak, hanya doa dan ikhtiar yang akan Aku lakukan.
Kalau pun ada yang terberat untuk Aku relakan adalah waktu Ku yang semakin jarang Aku habiskan bersama keluarga.
Untuk kedua orang tua Kami yang saat ini sudah semakin sering melalui hari-hari hanya berdua karena anak-anak mereka mulai sibuk mengejar cita-citanya, namun Aku harap semua yang Kami lakukan mendapat ridho keduanya dan dapat membahagiakan keduanya kelak.
Aku dan kedua saudara kandung Ku dilahirkan dari orang tua yang berjiwa besar dalam membesarkan anak-anaknya, dari kecil Kami dididik untuk menjadi manusia yang mengejar cita-cita menjadi orang sukses dan kini Alhamdulillah Kami bertiga memiliki profesi yang sama-sama bergerak dalam bidang yang notabennya adalah sebuah pengabdian bagi bangsa dan negara. Semoga Allah SWT selalu memberi kemudahan dalam menjalankan profesi Kami dan selalu meluruskan niat Insyaallah tulus karena-Nya.Amin...

Wednesday, July 6, 2011

Apakah Tanda-Tanda Kiamat Ada Di Diri Ku ???...

Tidak semua hal Aku paham tentang tanda-tanda kebesaran-Nya, karena Aku memang tidak cukup pandai membaca petunjuk-Nya. Dan bahkan tanda-tanda kiamat ada di diri ku saja baru aku pahami...hmmm,,,bagaimana ya kira-kira tanda-tanda itu bisa ada di diri ini???...
Yang baru Aku sadari ini ternyata memang benar ada pada Ku.
Aku menyadari namun tetap takut kalau-kalau akan selalu mengulangi itu semua. Aku merasa belum sepenuhnya berbakti pada mereka.
Yaaa,,,memang mungkin Aku selalu mengelak dalam hati kalau itu wajar sering Aku lakukan, tetapi ternyata tidak seharusnya Aku seperti itu. Aku menyesal, tetapi tetap takut hal-hal kekanak-kanakan itu akan terulang lagi.
Memang diri ini terkesan kekanak-kanakan karena memang Aku masih merasa ingin diperlakukan seperti masa itu. Masa-masa tanpa beban yang selalu didampingi, ditemani bahkan dilayani. Sekali lagi hal-hal itu memang seharusnya sudah tidak aku lakukan,tapi Aku masih sering khilaf.
Hati ini sadar dan memohon ampunan-Nya, tapi kenapa mulut ini berat dalam berucap meminta maaf kepada mereka.
Mungkin cara lain yang bisa Aku lakukan adalah melakukan apa yang mereka mau Aku lakukan karena pasti mereka selalu memaafkan semua khilaf Ku.
Di tempat yang jauh ini Aku selalu memohon kepada-Nya agar mereka diberi kesehatan dan dijauhkan dari segala godaan syaitan yang terkutuk.
Dan bila Aku tiba kembali dalam kebersamaan kami, Insyaallah akan selalu Ku buat mereka senang dengan apa yang Ku lakukan. Sesungguhnya Aku selalu ingin mendapatkan ridho mereka. Karena ridho-Nya hanya akan Ku dapat dari keridhoan mereka.

Allahummagfirlii wali waali dayya warhamhumaa kamaa robbayaa ni shoghiroo...Amin.

"Ya Rabb, Aku cuma titipan dari Mu bagi Mereka, dan Aku masih menjadi tanggungan di usia yang sudah beranjak dewasa ini. Yang bisa Aku lakukan saat ini adalah terus berusaha semaksimalnya untuk meraih cita-cita Ku yang juga cita-cita mereka,,,Insyaallah Aku akan terus mempertahankan semangat ini dalam menjalankan tanggung jawab serta kewajiban Ku sebagai seorang hamba-Mu juga terhadap profesi Ku kini dan nanti... Amin."