Tuesday, March 25, 2014

"Bukan aku tak mau, melainkan tak bisa...Maafkan ku tak mampu."

Kali ini aku kembali diberi cobaan dari Yang Maha Kuasa mengenai Habluminannas. Hubungan dengan seorang manusia yang baru ku kenal tak lama dan ternyata berujung sedih. Ku akui mungkin memang masa lalunya tak dapat ku terima dan membuat ku menentukan sikap untuk mengakhiri hubungan kami. Tak kuasa awalnya untuk menerima segala kenyataan tentang dirinya, namun kembali lagi soal takdir dimana aku harus mengetahui seluk beluknya sejak dini. Aku bisa saja luluh tapi tak dapat ku pungkiri saat ku harus menerimanya dengan kekurangan yang sulit ku kubur. Hari ku pernah diwarnai dengan segala celotehan dan canda tawa serta semangatnya yang tak bosan pada ku. Dirinya yang beberapa saat lalu menjadi tempat ku mencurahkan segala kepenatan bahkan saat ku ganggu di kesibukannya pun tetap diluangkan waktu bagi ku. Setidaknya aku sangat berterimakasih kepada Tuhan yang telah memberi ku kesempatan untuk mengenalnya walaupun sejenak dan sirna sekejap saja. Bilamana dirinya membaca curahan ini maka aku akan sangat berterimakasih padanya atas waktu yang dulu telah diluangkan untuk ku. Bahkan aku masih merindukan masa-masa kami bergurau tentang angan dan cita masing-masing.
Mungkin kami tidak satu frekuensi, tetapi aku berharap dirinya akan menemukan sosok yang pantas baginya. Serta doa ku bagi diri ini adalah segera bangkit dari kesedihan dan menggapai impian ku setinggi-tingginya. Dan mimpi ku yang lain adalah pastinya ingin menjadi sebaik-baiknya pendamping bagi seorang lelaki yang baik bagi ku, bagi keluarga ku dan bagi agama ku. Amiin Yaa Rabb...

P.S : I'am sorry for all mistakes esp. when I shared our problem to your senior and friend because I was worry about you. I hope you'll understand and forgive me sincerely.

-dedicated to my (ex) someone special...dear A.K 'THE RAIDer'-

Sunday, March 23, 2014

Minggu Cerah (30 Desember 2013)

Pagi ini aku terbangun dan lupa kalau harus menjalani shift pagi. Dengan sisa waktu setengah jam aku bersiap lalu berangkat menuju tempat ku harus bertugas. Pagi ini rasanya berbeda mungkin karena hal lain yang menghiasi dunia ku. Asa ku seperti baru diisi ribuan semangat untuk menjalani hari ini dan ternyata memang hari ini menyenangkan. Walaupun mandi ku tidak selama biasanya tetapi tetap segar dengan aroma hand body satsuma kesukaan ku yang selalu menambah gairah semangat ku tiap pagi. Hari ini rupanya aku cukup sibuk dengan beberapa tugas yang ternyata dapat rampung sebelum zuhur. Berjumpa dengan mereka yang sedang sakit lalu memberi jawaban atas segala pertanyaan hingga memberi kalimat-kalimat semangat telah ku lakukan hari ini. Senyum dan tawa tak lupa ku tampakan di wajah ini agar semua pun mendapat energi positif di minggu yang cerah ini. Tidak lupa juga ku haturkan kalimat "cepat sembuh yaa" bagi mereka yang sudah boleh pulang, lalu dengan senyum pun mereka membalasnya dengan kalimat dan ekspresi wajah yang melegakan ku. Hari ini aku mulai dengan senyum dan pasrah walaupun tugas ku rangkap, namun prosesnya berjalan seru tanpa emosi sedikit pun. Pelajaran yang ku dapat hari ini memang tentang keikhlasan dan semangat menjalankan tugas. Jika hari-hari ku selalu dimulai dengan senyum dan semangat ternyata hasilnya selalu menyenangkan. Rasa tulus dari hati akan terpancar melalui senyum lalu diekspresikan dengan perbuatan yang penuh kepedulian tanpa berpikir hal-hal negatif sedikit pun. Momen lain di hari ini adalah ketika ada keluarga yang datang mengucapkan terimakasih kepada seluruh petugas disini dengan penuh rasa gembira yang terpancar di wajah mereka. Rasa puas di dalam hati adalah ketika apa yang ku sampaikan dipahami dengan baik oleh mereka dan kerjasama yang terjalin menjadi bagian terpenting dalam proses perawatan. Hal-hal memuaskan seperti itu lah yang membangkitkan semangat ku untuk selalu tulus dalam bekerja seperti kalimat yang diucapkan oleh seorang yang ku sayangi "Berbuat yg terbaik, berani tulus dan ikhlas". Semoga hari ku selalu cerah seperti hari ini, mungkin hari ini biasa saja bagi yang lain tapi bagi ku ini patut disyukuri. Alhamdulillah.

Part 2. "Haruskah berangkat internship ?" -12/08/2013-

Yudisium, sumpah dokter dan ujian kompetensi dokter telah selesai, kini saatnya menuju petualangan selanjutnya yang disebut Program Internship. Amat sangat malas memulainya tetapi ini harus dimulai. Terbersit di lubuk hati untuk memilih Kalimantan Barat sebagai provinsi pilihan dan kami pun akhirnya ditempatkan di salah satu kabupaten yang tepatnya adalah kabupaten baru hasil pemekaran. Tapi tunggu dulu, sebelum berangkat internship banyak hal yang harus dipersiapkan selain packing barang. Pastinya hal penting itu adalah menghabiskan waktu di kota asal sebelum menjamah daerah baru yang notabennya terkesan pelosok.  Lalu memulai mengatur jadwal kumpul bersama para sahabat dan pastinya bersama keluarga. Paling tidak saat-saat bersama itu akan menjadi penyemangat untuk segera kembali lepas tugas di daerah. Hal unik lain yang mungkin secara tidak sengaja ternyata mendadak jadi penting seperti jalan-jalan ke mall, nonton film, atau sekedar ngobrol dan bersantai di restoran cepat saji hingga larut malam sampai tak terasa waktu tinggal hitungan jam tetapi koper sama sekali belum terisi barang yang akan dibawa. Pastinya saat-saat paling malas adalah mengisi koper dan membuat list barang penting apa yang harus diprioritaskan untuk dibawa supaya tidak overload di bagasi pesawat. Hari keberangkatan tiba, bangun pagi-pagi karena jadwal maskapai milik negara ini yang lumayan pagi sekali sehingga tidak sempat menghabiskan waktu di kamar mandi lama-lama seperti biasa. Begitu tiba di bandara yang mengagetkan saat check in adalah barang bawaan yang overload hingga 40 kg alias dua kali lipat kapasitas per orang. Mau dibilang apa lagi selain harus mengeluarkan kocek dari jatah uang saku yang lumayan bisa untuk makan seminggu dan habislah jatah uang saku saya, lalu dengan berat hati harus menghubungi orang tua "lagi-lagi" memohon belas kasih. Lalu kami pun tiba di bandara yang baru pertama kali saya menginjakkan kaki, yaitu Bandara Supadio. Sesuai dari penglihatan saat di udara terbentang sungai kapuas dan daerah ini memang dataran yang tampak seperti di atlas memang dominan warna hijau. Begitu sampai perjalanan internship pun dimulai dengan masa orientasi selama satu minggu sambil mencari tempat tinggal layak. Dan syukur sekali kami mendapat rumah yang cukup nyaman, walaupun harus menyesuaikan diri dengan keadaan air disini yang warnanya kadang sama dengan air sungai. Lebih lagi ini menjadi sebuah perjalanan yang hingga detik tiba disana masih menjadi pertanyaan mengapa harus internship?. Dan saya pun terus mencari jawaban pertanyaan tersebut.

Part 1. "Profesi ini pilihan hidup saya" -25/07/2013-

Tepat di awal tahun saya akhirnya dinyatakan lulus setelah sekitar enam tahun lebih mengenyam pendidikan untuk mendapatkan gelar seorang Dokter. Hari-hari mulai dari kuliah, tutorial, skill lab, lab activity, field visit, hingga masa-masa kepaniteraan klinik telah berlalu. Semua suka duka telah menjadi cerita yang tak akan pernah tamat diceritakan bahkan mungkin sampai anak cucu nanti. Banyak cerita duka tapi cerita suka pun tak kalah menghiasi perjuangan saya untuk mendapat gelar ini. Seringkali hati ini merasa lelah dan ingin rasanya untuk pulang sejenak dan bersenang-senang bersama keluarga. Beberapa hari pun sering saya habiskan waktu di rumah dan segera kembali lagi dengan hati yang setengah ikhlas apalagi kalau melihat lambaian tangan kedua orang tua dan adik dari balik jendela kereta api yang akan segera mengantarkan saya menuju Kota Satria. Totalnya kurang lebih dua tahun saya menjalani kepaniteraan klinik diselingi stagnansi, namun satu tahun empat bulan saya lalui proses menuntut ilmu di kota itu bersama teman-teman lama maupun baru, dan mereka sudah membuat saya setidaknya merasa betah disana. Kadang kami bermain selepas jaga atau sekedar mengobrol di kantin rumah sakit, cemilan gorengan kemangi kesukaan saya pun menjadi sasaran atau kadang di cafe kecil dekat bangsal kenanga kami menyantap mie nyemek sambil melemaskan otot-otot kaki setelah lelah berdiri di ruang OK atau pun visit di bangsal yang pasiennya kadang sampai lorong-lorong. Mulai dari diskusi kasus hingga cerita konyol antara CoAss dengan Konsulen menjadi bumbu yang seru dalam perbincangan kami. Tak jarang di sela-sela menanti Konsulen datang visit saya dan teman-teman memberanikan diri sejenak melarikan diri ke kantin untuk mengisi lambung yang sudah kosong semalaman, dan dengan jurus langkah seribu pun kami berjalan melintasi lorong lain menuju kantin agar tidak berpapasan dengan Konsulen. Pilihan lainnya menunggu sang ibu penjual donat dan gorengan yang senantiasa sedia setiap saat mengisi kekosongan perut kami. Sungguh konyol memang, tetapi begitulah seharusnya kalau tidak mau kelaparan asalkan jangan sampai tugas follow up pasien terbengkalai. Begitu visit mulai maka rasanya benar-benar senang, tetapi jika visit bersama konsulen yang hobi sekali bertanya itu akan menjadi visit yang cukup menegangkan apalagi ada di salah satu bagian yang selalu dilanjutkan dengan diskusi kasus di ruangan setelah visit. Cukup mengasyikan dan penuh canda tawa bahkan air mata dan memang begitulah CoAss. Dan ternyata hari-hari itu sangat saya rindukan. Saat-saat mengisi kebosanan dengan jalan-jalan bersama entah itu makan di sekitar GOR seperti cemilan takoyaki atau super sambal, minum jus di toko buah segar sambil duduk-duduk dan mengobrol, main ke swalayan yang hampir mendekati mall (mungkin sekarang sudah jadi mall), duduk-duduk di alun-alun lalu makan bakso terenak di kota itu, atau sekedar makan sate di depan rumah sakit yang terkenal di antara para CoAss yang ibu penjual satenya jarang senyum tapi sebenarnya baik, bahkan sampai karokean hingga tengah malam lalu pulangnya kelaparan dan akhirnya mampir dulu di angkringan, atau saat jaga IGD ketika bulan puasa mencari makan gudeg di pinggir jalan dekat pasar sampai harus satu meja bersama pria yang menyerupai wanita, dan masih banyak lagi. Memang benar CoAss adalah masa-masa penuh derita namun penuh cerita dan tidak akan saya lupakan segala daya dan upaya yang telah saya lalui di masa itu. Alhamdulillah itu semua telah menjadi kenangan dalam hidup ini dan tak lupa juga untuk merangkum teori dan pengalaman di kepaniteraan klinik dalam buku catatan CoAss yang sampai detik ini menjadi pegangan saat saya praktek. Kesan CoAss yaitu, jangan lelah untuk selalu membuka buku untuk mencocokan antara teori dengan praktek walaupun rasa mengantuk atau bosan kadang mendominasi dan jangan sampai hanya menjadi "robot bersenjata pulpen" yang hanya mencatat tanpa meresapi dengan otak dan nurani. Akhirnya Yudisium dan Sumpah telah terlaksana, kemudian perjalanan selanjutnya adalah INTERNSHIP. Dan pertanyaannya adalah, haruskah saya menjalani INTERNSHIP ?.

Saturday, June 9, 2012

Tiba-tiba Semua Terasa Tanpa Tujuan...

Ketika memulai menulis judul kali ini pun terasa tanpa tujuan. Semua yang telah dimulai dengan segenap niat dan cita-cita tiba-tiba seperti hilang entah kemana. Kenapa ini terjadi diri ini pun tak tahu jawabannya. Namun mungkin ada sesuatu yang mengganggu pikiran ini sehingga hari-hari seperti terasa gelap. Tujuan hidup ini hanya untuk menjalankan segenap tenaga dan pikiran dengan ikhlas menjalankan segala tugas dan kewajiban, walaupun itu semua kadang telah merenggut waktu untuk dapat bersama orang-orang tercinta, terutama keluarga. Hari demi hari yang telah Saya lalui selama 1 tahun menuju 3 bulan di kota ini memberikan banyak ilmu dan pengalaman. Disini Saya merasa banyak hal yang sulit dimengerti, tetapi seiring waktu itu semua dapat dilalui dan selesai begitu saja tentunya dengan segala kelelahan yang bersarang dalam fisik ini. Satu hal yang kadang menjadi pertanyaan dalam diri ini adalah " Apakah Saya siap menjadi dewasa dan menjalani profesi dengan segenap kemampuan dan tanggungjawab kedepannya? "... pertanyaan yang sulit dipaparkan dalam keadaan seperti saat ini. Saat dimana rasa jenuh menyelimuti otak ini dan saat badan ini mulai merasa seperti kekurangan energi. Namun kepercayaan orang tua membuat Saya tetap bertahan dan berjuang menyelesaikan masa-masa pendidikan ini, untuk selanjutnya menjalani tugas yang sesungguhnya di tempat yang pastinya tidak tahu akan dimana. Berada jauh dari orang tua dan keluarga kadang membuat diri ini seperti sendiri walaupun banyak sahabat dan teman di sekitar Saya. Yaaa,,,karena bagi Saya hanya orang tua lah tempat terindah dan ternyaman di dunia, tempat dimana Saya bisa bebas berkeluh kesah tanpa khawatir apapun. Karena mereka adalah milik Allah SWT yang paling berharga bagi Saya. Beberapa hari terakhir ini hati terasa tidak tenang dan merasa gundah. Gundah karena merasa sepi disini, di kamar yang jauh dari rumah, di tempat yang tidak bisa dengan sekejap tiba di rumah. Kadang batin ini merasa membutuhkan sosok lain yang bisa mengisi rasa sepi ini, bukan teman atau sahabat tetapi seorang pendamping hidup. Tetapi mungkin jawaban dari Yang Maha Kuasa belum ada untuk saat ini, dan Saya akan tetap menunggu. Saya tidak tahu kapan waktu itu akan datang, tetapi pasti akan tiba saatnya. Saat itu adalah saat Saya, orang tua dan keluarga telah siap menerimanya sebagai pendamping diri ini. Sekarang mungkin bukan waktu yang tepat memulai sesuatu yang serius, tetapi bukan berarti Saya menutup diri. Saya hanya tidak ingin terkesan terburu-buru, walau sebenarnya hati ini kadang sudah tidak sabar untuk berjumpa dengannya. Sesosok "dia" yang masih menjadi tanda tanya besar bagi Saya dan bahkan mungkin bagi orang-orang sekeliling Saya. Kalau membicarakan soal ini agak miris dan sedih, karena kadang Saya merasa minder ketika teman-teman dengan bangganya bercerita tentang pasangan mereka. Namun beginilah Saya dengan segala kekurangan dan mungkin prinsip yang masih dapat Saya pertahankan sampai detik ini. Insyaallah... Sesulit apappun hari esok pasti akan terlewati juga, walau tidak ada satu pun manusia yang tahu bagaimana hari esok itu akan terjadi dan Allah SWT pasti tidak akan memberi cobaan melebihi batas kemampuan Saya. Manusia dengan segala kekurangan adalah SAYA...Dan Insyaallah diri ini tidak akan pernah lelah berusaha menjadi yang terbaik dan berguna bagi manusia lainnya. Amin ... writted on June 9, 2012 Flamboyan 211.

Saturday, December 24, 2011

Sekedar Paragraf Penutup Akhir Tahun 2011

12 bulan sudah aku melewatkan hari-hari dengan setumpuk kesibukan yang tak lain dan tak bukan apalagi kalau bukan soal mengejar cita-cita.
Beberapa peristiwa terlewati tanpa kehadiran ku,bahkan di tahun lalu kejadian yang membuatkan sangat syok dan sedih adalah ketika kakak ku kecelakaan terjun tetapi aku tak di sana dan hanya memantau dari jauh melalui telepon, sms atau kiriman foto-foto tentang keadaannya. Belum lagi ketika keponakan ku lahir 2 bulan lalu di saat aku tidak sedang libur. Dan hal-hal lain seperti tidak ikut liburan bersama keluarga besar, pernikahan sepupu sampai pernikahan beberapa teman lama yang tidak dapat ku hadiri. Namun, aku tetap bahagia mendengar segala kebahagiaan bagi mereka walau hanya doa yang bisa ku panjatkan dari jauh. Dan aku selalu berharap semua dalam keadaan yang baik-baik saja. Tetapi aku paling khawatir bila sudah mendengar kabar mama atau papa sakit karena kadang pikiran ini jadi tidak menentu dan melantur, namun sekali lagi hanya kepada Alloh SWT aku berdoa dan memohon perlindungan untuk keduanya.

Sedikit kegalauan dalam hati mungkin sering terbersit ketika mendengar teman-teman ku sudah banyak yang sukses dan menikah. Mungkin terkesan iri tetapi hati ini hanya sebuah hati manusia yang jauh dari kesempurnaan. Ingin rasanya aku segera di posisi seperti mereka yang sudah terbilang sukses dalam karir maupun menyempurnakan kodratnya sebagai wanita. Aku pun hanya bisa berdoa dan pasrah menunggu jawaban-Nya soal ini semua. Insyaallah aku akan senantiasa memperbaiki diri lahir dan batin untuk selanjutnya dapat menyempurnakan ibadah ku kepada-Nya. Segala hikmah, nikmat dan karunia Alloh SWT akan selalu dilimpahkan bila manusia selalu meningkatkan keimanan dan ketaqwaannya. Karena Dia Yang Maha Tahu apa yang sesungguhnya aku butuhkan dan kapan saatnya tiba maka itu lah saat terbaik bagi ku.


Kisah lain di akhir tahun ini adalah tentang seorang sejawat ku yang baru saja kembali ke haribaan-Nya. Seorang teman,sahabat,saudara bahkan seorang anak yang dikenal baik hati, sopan, cerdas, gigih serta memiliki semangat belajar tinggi. Baru beberapa bulan aku mengenalnya tetapi sangat berkesan. Satu hal yang mungkin jarang dimiliki banyak orang, yaitu sifat sabar yang teramat dalam darinya memberikan sebuah pelajaran bagi ku. Semoga aku pun bisa memiliki hati yang sabar seluas samudera agar dapat menjalani segala cobaan dengan hati yang lapang. Sifat lain dari dirinya yang patut diacungi jempol adalah selalu berpikir positif kepada semua orang dan itu sangat membuat ku terharu karena tidak pernah sedikit pun ada cerita negatif tentang dirinya soal pergaulan maupun kesehariannya. Semoga Alloh SWT memberikan tempat terbaik bagi sejawat ku itu.Amin.


Kalau ditanya mengenai resolusi di tahun depan aku hanya bisa berpikir satu hal, yaitu ingin selalu gigih menjalani hari-hari ku menyelesaikan tugas ku meraih cita-cita. Aku ingin segera menjalani hari-hari baru dengan suasana baru dan lingkungan baru serta menjadikan diri ini lebih bermanfaat bagi manusia lain. Dan kalau bicara tahun baru tentunya beberapa hari setelah tahun baru akan tiba hari dimana aku akan bertambah usia. Usia ku akan semakin dewasa, tetapi kadang sikap dan pikiran ini masih kekanak-kanakan. Aku tidak butuh kado berupa materi, karena aku cuma ingin Alloh SWT mengabulkan doa ku dan berharap Dia akan mendengar lalu melimpahkan harapan ku itu.
Doa dan harapan ku di usia ku yang ke-24 :

1. Ya Rabb, aku ingin Engkau selalu memberikan kesehatan bagi kedua orang tua ku agar mereka dapat ku bahagiakan seperti mereka membahagiakan ku hingga kini, walaupun mungkin segala jerih payah mereka tak ternilai harganya tapi aku mohon berikan lah waktu dimana aku dapat membahagiakan mereka, melihat ku sukses dalam karir, mengantarkan ku menikah sampai memberi mereka cucu yang sholeh/sholeha dan lucu-lucu...Amin.

2. Ya Rabb, aku ingin selalu diberikan kelancaran dalam menggapai cita-cita dan izinkanlah aku untuk selalu menuntut ilmu setinggi-tingginya agar senantiasa bermanfaat bagi manusia lainnya sebagaimana profesi ku saat ini...Amin.

3. Ya Rabb, doa ku yang ini sebenarnya aku malu mengungkapkan tapi aku ingin sekali Engkau mendengarnya dan mengabulkannya di usia ku ini, tunjukkanlah jodoh ku Ya Mujib, pertemukanlah kami dalam tali silaturahmi di jalan-Mu, permudahkanlah jalannya menemukan hati ku sehingga kami dapat berkumpul dalam suasana hati yang tulus karena-Mu Ya Jami', berikanlah kesejukan di hati kami ketika bertemu Ya Waduud, dan eratkan hati kami selalu dalam iman kepada-Mu Ya Karim...Amin Ya Rabbal Alamin...

Ya Alloh Ya Rahman Ya Rohim,,,hanya kasih sayang-Mu lah yang mampu membuat diri ini merasa aman dan tenang, dan terima kasih Engkau selalu mengirimkan orang-orang yang menyayangi ku di mana pun aku berada. Orang tua, saudara, sahabat dan guru ku adalah manusia yang Engkau kirim untuk ku. Terimakasih Ya Alloh Ya Wahab...

Lahawlaa wa laa kuwwata illaabillahil aliyil adzim
Sholallahu 'ala syaidina Muhammadin wa 'ala alihi wa sahbihi wassalam wal hamdulillahirrobbil 'alamin....

"All my life I'll give my best for everything I do and especially for my parent whom I'll dedicate my successful by make them proud and happy,,,I love mama and papa"

Wednesday, October 19, 2011

Me and my lovely Grandel’s from Grabag to Semarang on 20 September to 13 november 2010

Kali ini perjalanan kami semakin terasa seru, tidak hanya canda tawa saja yang menghiasi perjalanan ini tapi ada juga air mata. Semua itu dimulai dengan salah seorang dari kami bersepuluh yang ternyata harus dirawat di RS karena DBD dan demam tifoid. Siapa dia???,,,,dia itu saya,,,,
Hari yang sebelumnya tidak pernah terbayang sedikit pun, hari dimana saya harus mencicipi jadi seorang pasien pada sebuah paviliun “G” di kota itu. Hari pertama tiba, diri ini masih seperti orang yang “sok kuat” sampai akhirnya sudah tidak tahan dan ingin pingsan. RL iv pun harus terpasang di tangan ini, sampai tiba di UGD apa yang terjadi???,,,,tentu saja saya harus dirawat,,,dan akhirnya dirawat lah di kelas dua RS itu,,,malam itu teman-teman saya yang bergantian jaga,,,benar-benar malam itu adalah malam yang sangat menyedihkan bagi saya,,,jauh dari mama dan papa,,,tapi Alhamdulillah teman-teman saya sudah mau meluangkan waktu mereka untuk bergantian menjaga saya yang sudah tidak berdaya ini. Malam itu tidak akan terlupakan,,,bahkan saat ingin ke kamar mandi saja kaki ini sampai sulit sekali melangkah karena kram di bagian betis,,,tidur pun rasanya sulit sekali, terasa di telinga ini berisik sekali dan tidak tahu ada apa sebenarnya. Sampai akhirnya keesokan harinya mama dan adik saya datang dari jakarta. Yang paling terharu ketika harus melihat mama menangis. Pada hari kedua itu saya langsung dipindahkan ke paviliun “G” dengan harapan suasanan disana dapat mendukung kesembuhan karena situasi lebih kondusif. Alhamdulillah selama empat hari dirawat keadaan saya pun semakin membaik. Awalnya saya sangat tidak yakin akan terus melanjutkan perjalanan bersama sembilan orang teman saya itu, namun hati ini semakin yakin ketika seorang dokter spesialis penyakit dalam yang merawat saya itu visit dan memberikan semangat dengan kalimatnya yang sangat santun. Saya tidak akan melupakan dokter itu, dia sangat baik dan kalimatnya pun selalu memotivasi saya sehingga pada hari kamis trombosit yang tadinya sempat turun hingga 13.000 menjadi naik. Hari kamis malam pun saya dijemput teman-teman menuju Magelang, dan hari- hari kami pun dimulai.
Sungguh perjalanan kami memang diwarnai dengan kegembiraan. Tinggal satu atap membuat kami saling mengenal watak satu sama lain. Walaupun sempat ada momen yang kurang mengenakan, tetapi itu semua telah selesai dan kembali seperti sedia kala. The Grandel’s,,,,yaa,,,itu lah nama kami. Nama itu diciptakan oleh seorang teman saya yang kepanjangannya diambil dari nama desa tempat kami menetap selama lima minggu. Selama disana banyak pelajaran yang dapat kami ambil, tidak hanya bagaimana cara kerja masing-masing program puskesmas tetapi juga tentang sebuah makna kehidupan. Disana baru terasa pentingnya bersosialisasi dan mengenal orang baru. Orang-orang desa yang sangat baik, mereka bahkan mungkin belum terjamah oleh pikiran-pikiran negatif. Niat orang-orang desa yang selalu ingin membantu sesama tanpa pandang bulu. Dan itu sangat menyentuh saya. Pelajaran lain adalah mengenai makna Kedokteran Keluarga yang cukup menarik perhatian saya dan membuat saya merasa bahwa adanya seorang dokter keluarga itu ternyata penting. Tidak mudah juga ternyata untuk menjadi seorang dokter keluarga, karena hal utama dalam benak seorang dokter keluarga adalah tentang sebuah niat dan keikhlasan. Bagi saya seorang dokter keluarga bukan lah sekedar dokter yang setelah memberi resep obat lalu selesai, namun harus menjalankan tugas secara paripurna dan menyeluruh. Menjaga agar yang sehat tetap sehat dan mengobati yang sakit sesuai keilmuan yang dimiliki serta melakukan rujukan sesuai kebutuhan. Intinya seorang dokter keluarga harus lah seorang dokter yang cerdas dan pandai berkomunikasi. Cerdas untuk mendiagnosis dan pandai berkomunikasi aktif untuk mendalami penyakit serta faktor risiko yang dimiliki pasien, sehingga dapat dilakukan suatu edukasi maupun penatalaksanaan yang berkesinambungan bagi pasien serta keluarganya. Itu lah yang membuat saya tertarik untuk menjadi seorang dokter keluarga.
Kisah perjalanan kali ini sangat seru dan pastinya penuh keceriaan. Saya senang bisa bersama-sama sembilan orang sahabat yang sudah saya anggap seperti keluarga dan saya sangat berterimakasih kepada Allah SWT karena telah mengirimkan mereka sebagai teman dalam satu tim. Tim yang solid dan penuh kekeluargaan.
I’ll always remember those moment when we spent our time together with laugh, happiness or even tears. Love you all my Grandel’s and thank you for those togetherness.